Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Maret 2011

saat semua sudah terlambat

Secercah sinar mentari mulai menerobos memasuki gorden kamarku. Kicauan burung menemani pagi indahku hari ini. Aku memaksakan diri untuk bangun dan segera melesat ke kamar mandi karena tidak ingin terlambat ke sekolah.
Hari ini, sekolahku mengadakan ulangan semester 1 atau biasa disebut ulum 1. Aku mendapat ruang 20, satu ruangan dengan sahabatku rani. Sejak kelas 1 smp, kamu memang sudah bersahabat dan sulit di pisahkan. Kelas 1 smp, kami memang berbeda kelas. Namun hubungan kami tetap dekat.. tapi bukan berarti aku tidak mempunyai teman lain. May, sani, dan ayu juga sahabatku.. dan akhirnya kelas 2 smp, aku mendapat sekelas mereka.
“pagi ni..” sapaku ketika ia melihat rani berjalan menuju nomer tempat duduknya. Saat ulum, kami ditempatkan sebangku dengan kakak kelas. “pagi re.. udh belajar lo ?” sapa rani. “udah si.. tapi Cuma mau ngulang baca” pelajaran aja.. lo ?” balasku . “belajar bareng dongg..” sahutnya dan segera duduk di sebelah bangkuku.
“ehemmm.. berdua doang ni ? ga ngajakin kita ?” kata may yang berjalan ke arah kami bersama sani dan ayu. “eeh sorry deh.. yaudah sini gabung !” kataku. “eeh taruhan yuk !” kata may. “hah ? taruhan ? taruhan apaan ?” kata sani. “gini.. kita kan sebangku sama kakak kelas ni.. siapa yang duduk sama kakak kelas yang paling ganteng , dia yang menang ! haha gimana ? mau ga ?” “hmm.. boleh boleh .. haha” kataku diiringi tawa yang lain . “eeh tapi kayaknya gue sebangku sama cewek dehh.. gimana dong ?” kata sani. “yahhh .. yaudah lo jadi juri aja deh !” kata ayu. “sipp bos !” sahut sani. Pengawas pun masuk dan kami balik ke tempat duduk masing masing.
“GILA ! jadi ini yang duduk sebangku sama gue ? ternyata ga sesuai harapan. Kalo gitu gue gue bisa kalah nih !” batinku. Pengawas mulai membagikan soal dan kertas jawaban. Aku mulai mengerjakan. Waktu awal, aku mengerjakan dengan tenang dan penuh konsentrasi. Namun, pertengahan hingga selesai, konsentrasiku mulai terpecah. Seba, kakak kelas di sebelahku mulai berisik memanggil kanan kiri. “berisik banget sih lo !” kataku. “bawel !” sahutnya. Aku pun mendelik karena malas berdebat mengingat sedang ulangan. “udah seren, berisik, ngatain gue bawel lagi lo !” batinku.
Akhirnya bel berdering. Kami segera mengumpulkan lembar soal dan jawaban kemudian keluar untuk istirahat. “eeh gimana ? siapa yang menang ?” tanya rani ke sani. “nggak tau.. gue belom liat keadaan sekirar tadi ! lo ngaak liat pengawas kita tadi ? bu yana coy ! bisa di kira nyontek gue !” kata sani. Bu yana adalah guru bp sekolahku yang terkenal the killest teacher. “hmmmm.. kayaknya bakalan gue lahh yang menang !” kata may . “what did you say ? feeling gue sih gue yang menang !!” kata rani. “yeeee apa apaan tuh ??! jelas-jelas yang menang gue !” sahut ayu yang mulai berdebat siapa yang akan menang. “aduhhhhh kalian apaan si ?! bisa nggak nggak berantem ? berisik tau !! gini deh.. biar adil, kita tunggu sampai ulum selesai baru gue umumin pemenangnya !” “S ETUJU !!” jawab kami kompak.
Akhirnya bel berbunyi kembali. Kami pun masuk dan kembali ke tempat masing-masing. Pengawas mulai membagikan soal sejarah dan kertas jawaban. Kali ini pengawasnya tidak sebahaya bu yana tadi menurutku. Kali ini pengawasnya mr. Tono guru bahasa inggris. Sifatnya baik, santai tapi serius.
Kejadian kali ini hampir sama seperti tadi. Awalnya konsentrasiku belum pecah. Namun setelah pertengahan ulangan, seba mulai menengok kanan kiri sambil memerhatikan pengawas. “sstttt !” bisik seba ke teman sebangku may sambil mengacungkan 3 jarinya (maksudnya nomer 3 apa ?). “panjang..” “yaudah nggak papa.. tulis di sini jawabannya !” seba melempar kertas lecek kepada rio, teman sebangku may dengan panik. Karena tidak hati-hati dan panik, akhirnya kertas itu kena kepala may yang sedang asik mengisi lembar jawaban. “auww !” bisik may. “sorry-sorry nggak sengaja !” kata seba. Waktu terus berlalu. Akhirnya bel berdering tanda waktu habis dan para siswa harus menggumpulkan kertas jawaban dan sudah waktunya pulang.
“woy buruan !” teriak gilang, sahabatku beda kelas. “iyaa !!” terak rani dan kami segera berjalan lebih cepat. Kami memang selalu seperti ini, pulang bersama setiap hari.
“eeh sebangku lo pada siapa namanya ?” tanya sani. “ryan !” kata ayu semangat. “bryan dongg” sahut rani tak mau kalah. “rio. Sumpah deh berisik bgt !” kata may. “gue seba. Iya tuh si rio sama seba nyontek-nyontekan mulu ! berisik lagi !!” kataku. “kalo gue viny. Baik deh orangnya. Pinter lagi !” kata sani
Keesokan harinya, jadwal ulangan adalah fisika dan kimia. Kejadian hampir sama seperti kemarin. Hanya ada special things hari ini. Saat istirahat, rani , ayu, may dan sani ke kantin. Aku tidak ikut karena malas dan memang belum terlalu mengerti kimia. Akhirnya aku tinggal di kelas buat belajar.
“hey.. nama lo refa kan ? Kata seorang kakak kelas sambil duduk di sebelahku. “kalo nggak salah, dia duduk di depan ayu.” Kataku dalam hati. “iya. Kenapa ?” tanyaku. “gue putra. hmmm kenapa ya ? maaf kalo lancang, tapi gue sebenernya suka sama lo dari awal liat lo.. yaa walopun kita baru ketemu 2 hari, tapi gue ngerasa perasaan lain ke lo.. mau jadi cewe gue nggak ?” kata putra. “nggak tau !” jawabku acuh. Merasa bingung dan shock dengan perkataan putra barusan, aku segera bangkit untuk menyusuk sahabatku dan menceritakan kepada mereka.
“terus lo bilang apa ?” “lo terima dia ?” “yang mana sih orangnya ?” jawab sahabatku berebutan , mungkin takut kehabisan pertanyaan. “namanya putra. kayaknya sih yang duduk depan lo deh yu. Ya nggak gue terima lah ! kenal aja baru berapa detik..” jawabku. Bell mulai berbunyi dan kami mulai memasuki ruangan.
hari ini, aku melihat rani tampak lesu tak seperti biasanya. “ran lo knp ? tumben diem ! haha” godaku.”nggak tau ni.. pusing bgt gue .. nggak enak badan !” jawabnya. TRINGGGG !! “eeh udah bel tuh.. gue balik dulu yaa.. dadah ..” kataku . satu persatu mulai masuk ke dalam ruangan dan duduk di tepat masing-masing.
Ulangan kali ini sama seperti kemarin dan kemarin lagi. Aku nengok ke rani yang tersenyum melihatku dengan wajah pucatnya. Waktu terus berlalu
Bel tanda selesai dan istirahat berdering. Aku menghampiri rani yang sedang terduduk lesu dengan kepala tertelungkup di meja, “kenapa lo ?” “nggak tau ni.. kepala gue makin pusing.. lemes bgt gue..”. aku menempelkan telapak tanganku ke dahi dan pipi rani. “agak anget. Eeh jajan yuk ! laper ni..” ajakku. “nggak aah .. pusing bgt gue.. lo jajan dulu aja sama sani, ayu , sama may. Nanti keburu bel masuk !” “masa gue ninggalin lo yang lagi kayak gini ??!” “laper nggak ?” “laper lah !” sahutku. “mau makan nggak ?” “mau lah !” “tempat makan di mana ?” tanyanya. “kantin .” “yaudah sanaaa .. nggak papa kok gue sendirian..” kataku. “bener nih nggak papa ?” ulangnya khawatir. “nggak.. udah sana ! keburu bel masuk !”
Keesokan harinya, benar dugaanku. Rani tidak masuk. Begitupun besok dan besoknya lagi hingga ulangan selesai. Menurut surat keterangannya, dia sakit. Tapi sampai sekarang aku belum tau sakit apa si rani.
Classmeeting pun tiba.. tapi rani masih belum masuk juga. Bahkan besok dan besoknya. Akhirnya...
“raniii !!! dari mana aja lo ?” “sakit apa ?” “kalo masih sakit jangan sekolah duluuu !” “kita kangennn bgt sama lo !” kata teman temanku mulai berebut pertanyaan. “iya gue juga kangen bgt sama kalian semua .. kemaren sempet kena gejala tipes.. tapi sekarang udah nggak papa kok. ” kata rani. “eeh gue punya kabar baik buat lo !” kata may. “hah ? apaan ?” “yang taruhan kita waktu itu, lo menang !” kata sani. “hahaha tuh kan kata gue juga apa ! mana doorprizenya ?” candanya. “eeh ada lagi !” kataku. “si bryan masa nanyain lo mulu pas lo nggak masuk !” lanjutku. “hah seriu ? terus kalian bilang apa ??” kata rani dengan wajah senang. “kenapa lo ni ? kok jadi seneng gitu ? lo suka ya sama bryan ? hayooo ngaku..” bujuk sani. “aaahhh apaan si !” sahutnya sambil tersenyum. “eeh kok gue jadi kangen ya sama putra ?” kataku. “hah ?” kata teman-temanku langsung menengok cepat ke arahku. “wah kena karma lo !” kata rani. “makanya jangan sok gitu ..” sahut ayu. “iya-iya maaf.. eh gimana ni .. kaya.a gue seka deh sama dia ..” kataku. “yah ! masa pada cinlok sih !” kata sani. “eeh mau gue comblangin nggak ?” tawar rani. “hmmm.. boleh deh !”
Akhirnya mereka berempat menjadi mak comblangku dan sekarang aku berpacaran dengan putra. Sebulan, dua bulan , hingga bulan berikutnya ntah mengapa aku menjadi suka pada seseorang bernama azhar. Dia satu angkatan , hanya beda kelas denganku. Aku merasa rasa sukaku ke azhar sama dengan sukaku ke putra.
Hari terus berlanjut. Ntah mengapa setiap bertemu azhar aku langsung kabur. Dan sekarang hubunganku juga mulai renggang dengan putra.
Bulan demi bulan berlalu. Semakin mendekati bulan bulan UN, aku merasa mulai lose contact dengan putra. Bahkan itu terjadi hingga dia lulus dan masuk SMA yang sangat dekat dengan SMPku. Memang jarak bukan menjadi masalah untuk kami bertemu , tapi waktulah masalahnya. Aku mulai tidak yakin dengan hubunganku dan putra.
Akhirnya hari kenaikan kelas berlanjut. Aku kelas 3 smp sekarang. Tapi hubunganku belum juga membaik dengan putra. Kami lose contact. Lebih tepatnya jika aku sms tidak di balas , telpon tidak di angkat.
Sikapku pada azhar juga tetap seperti dulu. Aku mulai mengirimnya surat melalui gilang, sahabatku dan teman sekelasnya. Ntah disampaikan atau tidak, tapi azhar tidak pernah merespon.
Hari demi hari , bulan demi bulan berlalu. Akhirnya hari UN tiba, dan kami harus belajar lebih giat agar lulus dengan nilai yang baik. kami lulus UN dengan nilai yang lumayan baik. aku dan rani mendaftar di sekolah negri yang sama dengan putra, tapi kami tidak lulus tes psikolog. Sementara ayu, sani, dan may mendaftar di SMK yang sama di daerah bogor. Akhirnya aku masuk SMA negri dan rani masuk SMA suasta. Walaupun kami berbeda sekolah , kami selalu SMSan , telponan , facebookan , dan twitteran.
Suatu ketika , ntah mengapa. Aku berfikir untuk putus dari putra. Sebenarnya aku juga berfikir begitu sejak kami lose contact. Tapi pikiran itu belum mantap dan teman temanku juga membujukku supaya jangan putus. “mungkin dia sibuk..” “mungkin dia banyak tugas..” dan lain lain. Berbagai bujukan itu mempengaruhiku. Tapi sekarang, hatiku sudah mantap untuk putus dengan putra.
Malam itu juga, aku sms putra dan bilang kalau sebaiknya kita putus saja. Akhirnya aku putus dengannya. Aku segera sms rani, sahabat yang paling dekat denganku dan bilang bahwa aku telah putus dengan putra. “kalo itu emang yang terbaik buat lo, why not ?!” kata rani di sms.
Hari demi hari, bulan demi bulan terus berlalu. Aku tetap lose contact dengan putra dan azhar. Tiba-tiba ada rasa bersalah di diriku karena aku putus dengan putra. Aku merasa memutuskannya secara sepihak. Aku merasa tidak ada orang lain yang mencintaiku setulus dia. Aku jadi galau. Bingung oleh perasaanku.
“ran, kok gue jadi ngerasa nggak ada orang yang sayang sama gue setulus putra ya ?kok gue jadi nyesel ya putus sama dia ?” curhatku dengan rani di via SMS. “hah ? berarti tandanya lo emang masih sayang sama dia. Lo Cuma dibikin buta sesaat karena cinta..” balasnya. “iya gue ngerti .. terus gue harus gimana sekarang ? gue bingung..” “hmm gue juga nggak tau .. gue bingung .. turutin kata hati lo !” “masih bisa nggak ya gue balikan sama dia ?” tanyaku. “ hmm nggak tau deh . coba aja sms dia . bilang baik-baik sama dia.” Sarannya. “nggak . nggak mungkin. Semua udah terlambat.. dia udah sama orang lain sekarang .. dan gue gak mungkin ngehancurin hubungan mereka . gue nggak sejahat itu. Gue mau terima kenyataan aja.. belajar lebih ikhlas dan berusaha buat nggak ngulangin kesalahan yang sama lagi..” “ok.. you must and you can do it ! dont give up ! live must go on ! ”

Selasa, 01 Maret 2011

demi sahabat

Warna biru cerah menyelubungi bumi seolah menjadi selimutnya. Sinar sang mentari yang menghangatkan tubuh yang perlahan muncul di ufuk timur memaksa masuk melalui celah horden kamarku. Hembusan angin semilir pagi yang lembut membelai pipiku dengan lembut. Kicau burung senantiasa menemani langkahku ke sekolah. Kuawali pagi itu dengan senyuman manis..
Hari ini pertama masuk sekolah setelah liburan awal semester. Rasanya suasana hatiku berbeda dengan yang kemarin-kemarin. Aku merasa hari ini lebih segar dan bersemangat.
Deg. Langkahku terhenti saat di depan gerbang sekolah saat menyadari susan melangkah menuju gerbang bersamanya. Tapi bel tanda masuk segera menyadarkanku. Aku pun langsung melangkah ke kelas.
“pagi ge” sapa susan dengan wajah berseri-seri. Wajah cantiknya semakin terlihat bila ia tersenyum.
“hey san, pagi ..” balasku. Aku emang sudah lama bersahabat dengan susan. Sejak kelas 1 SMP aku satu kelas dengannya. Kadang pertengkatan kecil karena masalah sepele biasa terjadi. Tapi itu tidak membuat kami putus hubungan begitu saja.
“tumben pagi ini cerah banget seyumnya.. kenapa san ? cerita dong” tanyaku memancing kejadian tadi pagi. “hah ? masa sih ? biasa aja ah!” elaknya. Sebenarnya dalam hati aku sudah tau mengapa.
Bel berbunyi tanda pelajaran akan di mulai. Hari ini diulai dengan pelajaran yang aku sukai, bahasa jepang . sensei naomi masuk ke kelas, sementara murid-murid kembali ke tempat masing-masing. Pelajaran demi pelajaran berlalu, akhirnya tiba jam yang ditunggu murid-murid, istirahat.
Dari jauh , aku melihatnya bermain basket di lapangan. Saat aku sedang memperhatikannya, dia melihatku dan tersenyum. Aku membalas senyumannya dengan senyuman yang menurutku manis, dan melambai kepadanya.
Keesokan harinya, susan tidak masuk sekolah. Bahkan besok, besok, dan besoknya. Menurut keterangan sakit, tapi tidak ada surat izinnya. Sudah seminggu ini susan tidak masuk sekolah. Aku harap sakitnya tidak parah. Rencananya, hari ini aku akan menjenguknya. Tiba-tiba susan muncul dari pintu dengan senyuman yang lemah dan pucat. Dia segera duduk di sebelah tempatku..
“hey san.. dari mana aja ? sorry belum jenguk .. tadinya mau hari ini. Eeh kamunya udah dateng.. maaf ya” “haha iya enggak apa-apa kok. Cuma sakit biasa aja.. ngak perlu tengok-tengokan segala” jawabnya sambil tersenyum lemah. Aku menyadari ada sesuatu yang aneh dari suaranya tadi. Wajahnya juga tak tampak seperti biasanya. “san, kok kamu pucat si ? kalo masih sakit kenapa nggak izin aja ?” susan tak langsung menjawab. Untungnya guru masuk dan susan erasa seperrti terbebas dari pertanyaan itu.
Saat di Sela-sela jam pelajaran, susan terlihat sangat pucat dan dia mimisan. Sepertinya dia tak menyadarinya. Wajahnya terlihat lebih pusat dari tadi pagi.
“san, kamu mimisan tuh. Kenapa ? tumben .. emang kemarin sakit apa sampai mimisan segala?” “hah ? mana ge ?” susan menyentuh hidungnya. “wahh gawat ! punya tissue ngaak ge ?” aku mengeluarkan sepack tissue, dan dia mengambilnya selembar. Kemudian ia meminta izin kepada guru untuk pergi ke toilet. Saat berjalan, jalannya terlihat sempoyongan dan hampir pingsan seperti sangat pusing.. “san, mau aku temani ngak ?” “ngak usah lah .. makasih..” aku menyerah. Sejak dulu, aku tau susan wataknya keras kepala. Kalau ia bilang nggak mau, ya nggak mau..
Lima menit.. sepuluh menit.. aku mulai menghawatirkan susan. Aku segera meminta izin kepada guru di kelas untuk ke toilet.
Deg. Jantungku nyaris copot melihat susan tergeletak di depan pintu kamar mandi. Aku heran tidak ada yang menolongnya, karena memang sedang sepi. Tanpa berfikir panjang, aku segera melesat ke kelas dan memanggil beberapa teman untuk membawanya ke UKS.
Aku menunggu sampai susan sadar. Tapi bel istirahat keburu berdering, jadi aku berniat membeli makanan dan minuman untuk susan setelah sadar nanti.
Setelah membeli makanan, aku balik ke UKS untuk memberi makanan kepada susan. Saat di ambang pintu, aku mendengar ada dua orang yang sedang mengobrol. Deg. Jantungku serasa berhenti berhenti berdetak. Susan yang telah sadar sedang berbicara dengannya.
“please san.. mau kan jadi pacar aku ?” “tapi ada syaratnya..” “apa ? pasti akan aku turutin..” kuurungkan kembali niatku untuk kembali ke kelas. “syaratnya kamu nggak boleh sedih, apapun yang terjadi.. kamu harus tegar.. kau ngak boleh nangis.. apapun yang terjadi sama aku..” sahut susan. Deg. Ada apa dengan susan ? mengapa hatiku serasa ditusuk-tusuk ratusan jarum ? “oke. Aku akan penuhi syarat itu..”
Aku kembali ke kelas dengan wajah tertunduk lesu. Masih memikirkan percakapan mereka tadi. Ada apa dengan susan ? mengapa ia berbicara seperti itu ? mengapa hatiku serasa ditusuk ratusan jarum ? berbagai pertanyaan berkelebat di benakku
Sehari, dua hari, tiga hari, seminggu kemudian , wajah susan terlihat makin hari makin pucat. Dia juga sering membawa saputangan dan tissue .. tiba-tiba, hari ini dia tidak masuk sekolah. Bahkan besok dan lusa..
Beberapa hari kemudian, aku mendapat telpon dari mamanya susan, sejak tadi malam susan koma dan masuk rumah sakit. Deg. Aku shock mendengar kabar ini. Jantungku nyaris berhenti berdetak. Tanpa banyak berfikir, aku ke kelas dia dan mengajaknya ke rumah sakit serta pergi ke meja piket untuk meminta izin.
Setiba di rumah sakit, mama susan segera memelukku sambil terisak. Dia meminta bantuan doanya untuk susan kepada aku dan dia. Aku bertanya pada mama susan bagaimana ini bisa terjadi dan sebenarnya sakit apa yang di derita susan..
“sebenarnya ini dimulai 2 tahun yang lalu saat kami baru mengetahui bahwa susan terkena kanker otak stadium 3” cerita mama susan sambil terisak. “ntah dari mana dan bagaimana susan bisa mendapat penyakit mematikan seperti itu. Padahal dia putri semata wayang kami.. satu-satunya harapan kami” lanjut mama susan terisak lebih hebat dari sebelumnya.
“God ! siapa yang menyangka gadis itu memiliki penyakit seperti itu ? gadis setabah dan setegar dia mampu menyembunyikan semuanya seperti tidak terjadi apa apa ? mengapa aku sangat bodoh, hingga tidak mengetahui penyakitnya ? padahal aku sudah 3 tahun bersahabat dengannya.. apa salah gadis ini ya tuhan, hingga dia harus menanggung penyakit seperti itu ? mengapa harus dia?” batinku.
Setiap hari sepulang sekolah, aku dan dia selalu mampir ke rumah sakit untuk menjenguk susan. Menurut dokter, sakit kanker yang di deritanya semakin parah. Hari demi hari berlalu ..
Suatu pagi, aku mendapat telpon dari mama susan, katanya susan sudah sadar dan memintaku dan dia untuk datang ke rumah sakit. Tanpa berfikir lebih lama, aku dan dia cepat melesat ke rumah sakit tempat susan di rawat. Aku langsung masuk ke ruangannya dan susan tersenyum kepadaku dan kepada dia dengan sangat lemah...
“aku punya satu permintaan.. kalian mau kan menurutinya ?” “apa sayang ? bilang sama mama nak..” kata mama susan. “aku mau kalian semua tersenyum saat aku nggak ada nanti.. aku mau kalian tetap tegar menerima kenyataan dan tetap jalani hari tanpa beban fikiran .. kalian mau kan ?” katanya sambil tersenyum. “kamu bicara apa sih san ?” kataku sambil terisak. “kamu nggak boleh bicara gitu san.. kamu gnggak boleh ninggalin kita semua..” lanjutku.
“ge, setiap manusia pasti meninggal.. dan mungkin ini sudah waktuku..” sahutnya. “nggak ! kamu nggak boleh bicara seperti itu san !! kamu nggak boleh ninggalin aku ! ninggalin kita semua !!” bantah dia histeris. Mama susan hanya menangis tak mampu berkata-kata.
“makasih ya semuanya.. udah bikin hidup aku lebih baik.. aku dari kecil.. buat mama sama papa, makasih udah mau ngerawat aku dari kecil.. mau tetap sayang sama aku padahal aku suka nyakitin hati kalian.. buat gea, makasih udah jadi sahabat aku selama ini.. aku nggak pernah nemu sahabat sebaik kamu.. maaf yaa kalo aku banyak salah.. buat kamu, makasih kamu udah mau jadi pacar aku.. makasih kamu udah mau setia sama aku selama ini.. maafin aku ya.. satu lagi pesan aku ke kamu, tolong jagain gea. Dia sahabat terbaik aku selama ini..”
Tanganku dingin mati rasa. Mama susan tak mampu lagi membendung air matanya.. air mataku pum mulai meleleh..
“ka.. kalian harus ja.. janji sama aku.. ka.. kalian har.. harus nurutin permin.. taan aku.. kalian harus bisa.. ma.. maafin semua salahku..” katanya dengan napas yang mulai tersendat seperti kehabisan napas. “selamat.. tinggal” tubuhnya terkulai lemah tak berdaya.
“nggaaaakkkk !! kamu harus terus disini san.. kamu nggak boleh ninggalin kita semua..” kataku histeris. “susan nggak akan pergi ninggalin kita. Dia pasti selalu ada di sini” katanya sambil menunjuk dadanya sebelah kiri. “kalau kita benar sayang sama susan, kita harus tunjukin ke dia kalau kita bisa nepatin janjinya ! kita harus buktiin !” lanjutnya. Kemudian semua di ruangan itu mulai tersenyum walau dengan air mata meleleh. Mereka berjanji dan berusaha untuk bisa menuruti permintaan terakhir susan.